Pages

Ads 468x60px

Labels

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2014

Sedikit Cerita Pulau Kundur, Kepulauan Riau

Sedikit Cerita Pulau Kundur, Kepulauan Riau

Deretan Pondok Tempat Bersantai di Pinggiran Pantai Lubuk.

Pulau Kundur-adalah nama salah satu pulau yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau. Suku Melayu mendominasi sebagian besar penduduknya. Jadi, jangan aneh kalau penduduk di Pulau Kundur menggunakan bahasa yang tak jauh berbeda dengan Negeri Jiran Malaysia.
Pulau Kundur sangat terkenal dengan buah duriannya yang khas dan dikenal dengan nama Durian Tanjung Batu. Seperti namanya, buah yang satu ini banyak terdapat di Tanjung Batu yang merupakan pusat kota Pulau Kundur. Jika sudah datang musimnya maka orang pun berbondong-bondong untuk mencicipinya. Para produsen Durian Tanjung Batu juga mengirim dan menjualnya ke kota-kota terdekat, seperti Batam, Karimun, dan Tanjungpinang.
Selain terkenal dengan duriannya, Pulau Kundur juga dikenal sebagai penghasil timah. Pengolahan timah terletak di Daerah Prayun. Jarak antara Tanjung Batu dengan Prayun dapat ditempuh selama lebih kurang satu setengah jam perjalanan. Setiap minggu kapal-kapal pengangkut timah pulang pergi ke Pulau Bangka yang juga merupakan salah satu penghasil timah terbesar. Kesamaan antara Pulau Kundur dengan Pulau Bangka tidak hanya pada segi sebagai penghasil timah saja, tetapi juga dari segi tekstur kotanya pun tak jauh berbeda. Termasuk tekstur pantai di Pulau Bangka yang memilik banyak bebatuan granit besar, begitu juga halnya di Pulau Kundur.
Selain bersebelahan dengan Malaysia, Pulau Kundur juga berbatasan dengan Singapura. Jaraknya dapat ditempuh  lebih kurang satu setengah jam perjalanan menggunakan ferry. Walaupun, tak semegah Pulau Batam beberapa pelancong dari negeri singa tersebut tak segan untuk menyinggahi pulau ini.
Kedekatan dengan kedua negara tersebut cukup memengaruhi kondisi Pulau Kundur. Mulai dari merek-merek makanan yang dikirim dari dua negara tersebut hingga siaran-siaran televisinya yang banyak menghiasi layar kaca di setiap rumah penduduk Pulau Kundur. Jika, penduduk di Pulau Jawa hanya bisa menikmati kartun Doraemon dalam bahasa indonesia, masyarakat Pulau Kundur dapat menikmati kartun jepang tersebut dalam tiga versi bahasa. Mulai dari bahasa melayu yang ditayangkan salah satu stasiun televisi Malaysia dan bahasa Mandarin yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi Singapura.
Pulau Kundur memang tidak sepopuler "kakaknya" Pulau Batam. Namun,  kecintaan saya dengan tanah tempat saya tumbuh besar itu tak dapat tergantikan oleh daerah lain dimanapun. Karena segala mimpi, cita-cita, serta keceriaan masa kecil yang menyenangkan tertoreh di Pulau Kundur.

Asal Usul Nama Pulau Kundur

Asal Usul Nama Pulau Kundur

Pulau Kundur -Terletak di sebelah selatan Pulau Karimun. Jarak tempuh dari Karimun ke Kundur mencapai 2 jam, ada beberapa alternatif untuk mencapai pulau ini, yang pertama menggunakan kapal fery cepat langsung menuju ke Tanjung Batu, dan yang ke dua menyebrang dari karimun  menuju Selat Beliah lalu melanjutkan perjalanan darat ke ibukota kecamatan.
Ada beberapa versi tentang asal usul nama Pulau Kundur diantaranya adalah nama Kundur berasal dari nama sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah barat dan berdekatan dengan pulau Timun. Kedua pulau ini mempunyai legenda tersendiri. Diceritakan dahulu hidup seorang petani yang sangat berhasil dalam bercocok tanam, suatu hari sekembali dari kebunnya ia memikul hasil dari kebunnya yang berupa buahkundur dan buah timun, dalam perjalanan pikulannya patah sehingga bawaannya jatuh berserakan. Karena kesal, buah kundur dan timun itu dilempar ke laut, dan dari kedua buah tersebut muncullah Pulau Kundur dan Pulau Timun. Di wilayah Kecamatan Kundur ini juga terdapat desa yang bernama Desa Kundur.
Versi lainnya adalah sebagian masyarakat percaya bahwa pulau tersebut dahulu sangat banyak ditanami buah kundur. Penanaman buah kundur sangat dimungkinkan untuk perdagangan, sehingga diperlukan lahan yang besar hingga menghabiskan satu pulau untuk penanaman buah ini. Menurut cerita, dari sinilah asal usul nama Kundur terbentuk.
Versi yang terakhir adalah karena bentuk Pulau Kundur yang menyerupai buah kundur, hal ini diyakini karena para nelayan yang mengelilingi pulau ini mengatakan bahwa bentuk pulau ini menyerupai buah kundur.
Sumber Buku Sejarah Daerah Kabupaten Karimun 3
             Perbandingan bentuk buah kundur dan Pulau Kundur
Buah Kundur
Pulau Kundur

SEJARAH TANJUNG BATU KUNDUR

SEJARAH TANJUNG BATU KUNDUR


[Tanjungbatu+PETA.png]

Tanjungbatu- Merupakan salah satu kota yang berada dipulau kundur, walaupun hanya sebuah pulau tetapi didalamnya banyak meninggalkan sejarah masa lampau.
1. masa penjajahan belanda

pada abad ke-16, kekuasaan asing mulai masuk keindonesia dimulai dari portugis, spanyol lalu belanda. disebagian wilayah indonesia, semua kebun dikuasai oleh belanda. tapi hal itu tidak terjadi di tanjung batu. pada awal abad ke-19, berdirilah sebuah pabrik yang dipegang oleh seorang yang berkebangsaan jepang. bernamaYAMAMOTO. dengan diberi nama NAN KOKO GUNGU KAISA.  kebun yamamoto sangat luas, kebun karetnya hingga 6 hektar, kebun pinangnya sebesar kebun pinang dan tanjung sari (sekarang). dalam satu bulan karet dan pinang yang di dapat mencapai 80 ton. oleh karena itu untuk mempermudah angkutan maka di bangunlah sebuah parit yang sekarang bernama parit jepon.

pada waktu itu penduduk pribumi diperbolehkan sekolah, sekolahnya hanya 3 kelas dan berada di depan sebuah masjid (sekarang masjid nurussalam). kemudian di pindahkan kekawasan pabrik (sekarang hotel pelangi dan prima), tepatnya di belakangnya. (sekarang kantor pos). gurunya waktu itu bernama bakar, simon dan sinaga.

mata uang yang digunakan adalah dollar singapura, oleh karena yamamoto hanya sendiri yang bukan penduduk pri bumi maka keadaan pada waktu itu sangat aman.

2. penjajahan jepang

tapi ketentraman tidak berlangsunglama, pada tahun 1941 pangkalan AL amerika di bom oleh jepang, akibatnya yamamoto kembali ke jepang dengan alasan ketentaraan. dan nan koko gungu kaisa ditutup. pada tanggal 8 maret 1942 pemerintah hindia belanda menyerah tanpa syarat kepada jepang. hal ini awal dari penjajahan jepang di indonesia. kemenangan jepang ini membuat yamamoto kembali ke tanjungbatu i9a mendirikan pabrik lagi dengan nama baru, NAN YO KABU KUSI KAISA. pada waktu itu tentara jepang banyak yang datang ketanjung batu, mereka datang dengan menggunakan kapal yang bernama MAYANG BETAWI.

sewaktu tentara jepang berada di tanjung batu, mereka mendirikan markas (sekarang kantor polisi), para tentara jepang sangat kejam, mereka memancung dan mencambuk penduduk yang tidak mau tunduk kepada mereka. mereka juga menutup sekolah, tapi para guru tatap berusaha untuk terus mengajar, akhirnya berdirilah sekolah baru yang diberi nama SEKOLAH RAKYAT (sekarang di belakang hotel gembira). keturunan tionghoa diperboleh kan oleh tentara jepang untuk mendirikan sekolah, yang di beri nama SEKOLAH VAIVEN (sekarang SD 003 dan 004).

kebengisan tentara jepang tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 15 agustus 1945, jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. hingga pada tanggal 17 agustus 1945 kemerdekaan indonesia di proklamirkan. kekalahan jepang membuat yamamoto kembali ke jepang. dan pabriknya di teruskan oleh seorang keturunan tionghoa.

3.  agresi militer belanda

pada tanggal 29 september 1945, terjadi pendaratan tentara sekutu di indonesia. tak lama dari itu tentara belanda sudah sampai di tanjungbatu. mereka juga mendirikan markas seperti jepang dengan lokasi yang berbeda dari markas jepang, yaitu disebuah bukit (sekarang sebuah klenteng). dengan dibangunnya markas belanda di bikit itu, maka sekolah rakyat yang berada di bawah bukit itu di pindahkan ketempat lain (SMEA lama/ sekarang di depan BRI).

belajar dari pengalam pahit kekejaman tentara jepang, kali ini perlawanan rakyat mulai terjadi denagn dikomandai oleh ABDUL MANAF dan ABDUL LATIF. mereka berjuang mengusir penjajah belanda dari tanjung batu. tetapi abdul manaf gugur ditembak belanda. di sungai buluh (kel.alai). ia lalu dimandikan dan di sholatkan di masjid (masjid nurussalam lama). dan dimakamkan di antara kebun karet (sekarang pusara bakti).

pertempuran antara belanda dan rakyat terus terjadi, hingga akhirnya pada tanggal 23 agustus 1949 di deenhaag, diselenggarakan konfrensi meja bundar (KMB), dan pada tahun 1950 belanda keluar dari tanjung batu.keluarnya belanda ini disambut gembira oleh penduduk. dan diadakan upacara kedaulatan dilapangan (sekarang balai pemuda dan olahraga) menyambut kebebasan tanjung batu dari penjajah.

SEJARAH BATU LIMAU

SEJARAH BATU LIMAU
batu kemaluan laki-laki : Aneka bentuk bebatuan yang terdapat di objek wisata Batu Limau konon merupakan legenda peninggalan sejarah Raja Melayu
KUNDUR (HK) - Bagi masyarakat Kundur dan sekitarnya tentu tidak asing lagi dengan objek wisata Batu Limau. Daerah ini tersohor dengan aneka jenis bebatuannya yang konon mengandung magis. Uniknya, bebatuan tersebut menyerupai aneka bentuk.
Ya, di Batu Limau yang terletak di Desa Batu Limau, Kecamatan Ungar, Kabupaten Karimun sedikitnya terdapat enam bebatuan yang sudah terkenal. Nama bebatuan itu antara lain; (maaf) batu kemaluan laki-laki dan perempuan, batu bilik (dalam bahasa Melayu artinya kamar), batu kapal, batu limau, batu keris, batu pengantin dan banyak lagi lainnya.
Aneka bentuk bebatuan ini konon merupakan legenda
Nama objek wisata Batu Limau diabadikan oleh warga setempat sebagai nama desa, yakni Desa Batu Limau, yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Ungar. Sedangkan Kecamatan Ungar sendiri merupakan pemekaran dari Kecamatan Kundur, yang baru saja disahkan dan dipimpin oleh seorang camat bernama Raja Jemishak sejak akhir Desember 2012 silam.
Aneka bentuk bebatuan ini konon merupakan legenda
Untuk menjangkau lokasi objek wisata Batu Limau, warga dari luar Pulau Kundur terlebih dahulu transit di  Tanjungbatu, kemudian menuju pelabuhan bot pancung yang memang dikhususkan menuju Pelabuhan Alai dan Sungai Buluh. Perjalanan melalui laut ditempuh sekitar 10 menit dengan tarif Rp3 ribu per orang.

Setibanya di pelabuhan Sungai Buluh atau Alai, pengunjung akan diantar ojek sepeda motor sekitar 10 menit perjalanan dengan tarif  Rp10 ribu. Setelah sampai di lokasi, pengunjung tidak dikenakan tarif alias gratis. Hanya saja, jika pada saat ada acara keramaian atau pesta pantai, maka pengunjung dikenakan biaya pembelian karcis masuk sebesar Rp5 ribu.
neka bentuk bebatuan ini konon merupakan legenda peninggalan sejarah Raja Melayu
Panorama pantai yang dipenuhi dengan bebatuan sangat cocok menjadi alternatif menghabiskan masa liburan dan bersantai bersama keluarga di sana. Dengan memandangi lautan luas yang berbatasan langsung dengan Pulau Penyalai, Kabupaten Indra Giri Hilir (Riau Daratan), pengunjung akan disuguhi aktivitas nelayan yang melaut di sekitar perairan Batu Limau.

Camat Ungar, Raja Jemishak mengatakan, keberadaan bebatuan di objek wisata Batu Limau yang kini diabadikan menjadi nama salah satu desa di kecamatan tersebut, memiliki cerita legenda dan misteri mengenai raja-raja Melayu zaman dahulu.
Aneka bentuk bebatuan ini konon merupakan legenda
Diceritakan pria yang akrab disapa Jimi ini, pada zaman raja-raja Melayu dahulu, ada satu rombngan kerajaan Melayu Lingga berlayar dan suatu ketika mereka kehabisan perbekalan air. Melihat di sekitar perairan ada pulau yang cukup besar, sehingga kapal kerajaan tersebut pun merapat.

"Setibanya di pulau tersebut (sekarang bernama Pulau Ungar), anak raja yang perempuan pun ikut turun ke pantai dan menyempatkan diri berkenalan dengan seorang nelayan kampung, yang pada akhirnya mereka saling mencintai namun tak direstui oleh sang raja, karena itu melanggar pantang kerajaan dengan alasan anak raja tidak boleh menikah dengan masyarakat biasa. Atas hal ini putri raja pun jatuh sakit karena cinta yang tak direstui dan setiap hari sakitnya makin parah. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan serta rasa sayang sang raja kepada anaknya, maka direstuilah hubungan anaknya sehingga menikahlah mereka," ujar Jimi yang juga sebagai putra asli kelahiran dari Pulau Ungar.
Aneka bentuk bebatuan ini konon merupakan legenda
Pria kelahiran 1970 ini pun melanjutkan ceritanya, bahwa atas pernikahan anak raja tersebut, ternyata mendapat sumpahan nenek moyang mereka dengan alasan telah melanggar pantang kerajaan, sehingga seluruh rombongan raja yang merapat ke Pulau Ungar termakan sumpah dan menjadi batu, termasuk berbagai perhiasan dan perlengkapan yang dibawa berlayar pada saat itu. Sehingga pada akhirnya hantaran untuk pesta pernikahan anak raja yang di dalamnya terdapat buah limau (dalam bahasa Melayu buah jeruk) ikut menjadi batu, sebagaimana saat ini jika dilihat dari dekat, Batu Limau memang hampir mirip seperti buah kegemaran putri kesayangan raja yang di bawahnya dialas dengan talam (nampan-red).
Demikian pula batu besar yang kini disebut sebagai batu kapal. Selain itu ada batu bilik, batu pengantin, batu lesung  dan banyak lagi.
Aneka bentuk bebatuan ini konon merupakan legenda
"Waktu orang tua-tua dulu katanya masih ada pinggan mangkok (piring dan baskom, red) yang masih bisa dipergunakan oleh masyarakat setempat jika ada hajatan atau pesta pernikahan. Sehingga warga pada saat itu pun sangat terbantu dengan peralatan makan peninggalan raja tersebut. Namun sekarang tak ada lagi, katanya ada yang pinjam tapi pada saat dikembalikan jumlahnya berkurang, akhirnya pinggan yang jumlahnya banyak di Batu Limau itu hilang begitu saja dan tidak bisa lagi dipinjam oleh masyarakat setempat," jelas Jimi.

Luput dari Perhatian


Sampai saat ini, bebatuan yang penuh makna sejarah kerajaan Melayu zaman dahulu masih bisa dilihat dengan jelas, namun sangat disayangkan kondisi objek wisata Batu Limau tampak tidak terawat. Sampah sabut kelapa tampak berserakan di atas pasir pantai dan tidak ada satu pun tong sampah yang disediakan.

Di samping itu, tidak ada tempat berlindung dari terik matahari, sehingga pengunjung terpaksa berteduh di bawah  pepohonan rindang untuk melepaskan lelah. Jika hujan turun, pengunjung terpaksa berteduh di area parkir yang tidak cukup luas.

Tapi pria yang kini memimpin di tanah kelahirannya itu tidak putus asa dan mengaku akan berbuat semampunya, guna memajukan objek wisata di kampung halamannya.

"Ini akan jadi ikon Pulau Ungar dan khususnya Kecamatan Ungar sendiri. Karena kecamatan lain tidak memiliki bebatuan unik seperti ini, sehinga nantinya akan jadi daya tarik sendiri yang kemudian akan bermuara pada pendapatan masyarakat setempat. Banyak pengunjung tentu banyak pembeli sehingga warga pun berkesempatan menjajakan dagangan atau oleh-oleh dari Desa Batu Limau," ucap Jimi.

Untuk sementara waktu, Jimi mengaku akan melakukan pembangunan fasilitas objek wisata tersebut berupa bangsal atau tempat beristirahat, juga bisa dijadikan sebagai tempat berteduh.

Adapun kendala yang dihadapi saat ini, menurut Jimi adalah panggung rakyat. Jika ada kegiatan atau pesta rakyat, warga terpaksa mendirikan atau sewa panggung dengan biaya yang cukup mahal. Namun jika hal ini dapat diatasi oleh pemerintah melalui Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparbud) Kabupaten Karimun untuk membangun panggung permanen, maka tak perlu lagi mengeluarkan anggaran besar.

"Kalau sudah ada panggung permanen kita akan buat pesta rakyat sebulan sekali. Sehingga wisatawan dari luar pun akan datang ke sini. Usulan ini sudah saya masukkan saat musrenbang kemarin tentang pengembangan objek wisata, mudah-mudahan dipenuhi. Ini juga untuk meningkatkan pemasukan desa," harap Jimi.

Dijelaskannya pula, setiap hari libur atau akhir pekan, objek wisata Batu Limau selalu dikunjungi, tapi hanya didominasi oleh wisatawan lokal. Hal inilah yang menjadi perhatiannya untuk serius menggarap salah satu situs sejarah kerajaan Melayu tersebut.

Jimi juga menceritakan, pada saat dirinya masih berprofesi sebagai pekerja swasta dan sempat bekerja di Hotel Gembira, dia memiliki strategi tersendiri untuk membuat pengunjung hotel merasa penasaran dan pasti berkeinginan datang ke bebatuan unik itu. Dengan cara mengabadikan semua batu yang ada menggunakan kamera seadanya, kemudian dicetak dengan ukuran besar dan ditempel di setiap sudut hotel, sehingga banyak turis asing terutama dari Singapura dan Malaysia tertarik.

Cara ini menurut Jimi cukup efektif pada saat itu. Sehingga setiap akhir pekan kerap ditemui wisatawan asing yang hanya bersantai atau memang ingin melihat dengan mata kepala mereka bentuk bebatuan unik tersebut.

"Alhamdulillah dengan cara itu tidak sedikit dari turis asing yang minta diantarkan ke Batu Limau, penambang bot pancung pun mendapat penghasilan, karena mereka banyak yang sewa dan bukan naik reguler. Tapi saat ini seiring pengunjung mulai tidak ada, Batu Limau seolah tidak lagi dikenal, padahal ini situs sejarah dan ikon masyarakat Melayu," tutur Jimi, miris

Ada Tangga Ajaib di Pantai Gading Pulau Kundur

Ada Tangga Ajaib di Pantai Gading Pulau Kundur Karimun


Ada Tangga Ajaib di Pantai Gading Pulau Kundur Karimun


TANJUNGBATU- Unik tapi ajaib. Kalimat tersebut mungkin bisa mengambarkan sebuah keramat yang cukup lama terdapat di pantai  Gading, Tanjungbatu, Kecamatan Kundur. 


Keajaiban itu terdapat pada tangga di keramat. Bahkan keunikanya ini bisa menjadi ajaib. Karena jumlah tangga di Gading ini berbeda beda. Jika kita naik ke Tangga jumlah sekitar 60, turun dari tangga itu jumlahnya bisa mencapai 65 atau bisa kurang. Akan tetapi  tidak semua orang bisa mendapatkan keanehan tangga ini. Ada orang tertentu bisa merasakan keanehan tangga tersebut. 


Menurut warga setempat, keanehan pada tangga ini memang diketahui mereka. Warga di Gading mengakui jikalau tangga itu sudah cukup lama ada. Bahkan mitos keanehan dan sejarahnya juga belum banyak diketahui masyarakat.


Untuk menuju ke wilayah Gading, cukup menggunakan kendaraan saja. Jaraknya tidak begitu jauh dari Tanjungbatu Kota. Wilayah ini terdapat pantai dengan pasir putih dan dikelilingi hampir selurun batu. 


Ajaib nya Tangga-tangga yang ada di Pantai itu selalu dikunjungi warga baik warga Kundur bahkan diluar Kundur. Pengunjung itu hanya untuk melihat keunikan pada tangga yang terdapat digading, Tanjungbatu. 


Setibanya naik sampai ke atas tangga,  terdapat banyak makam-makam lama. Dipingir tangga dihiasi deng warna Kuning telur seperti masjid Pulau Penyengat.


Memang warna kuning selalu menjadi warna yang banyak digunakan masyarakat melayu untuk mengkramatkan benda-benda lama atau sejarah.  


Untuk sampai ke Tangga ini, kita harus berjalan kaki disepanjang pantai yang berbatuan sekitar 300 Meter. Karena melalui jalan pantai inilah bisa mencapai tempat tersebut.


Selain itu, keajabaiban tangga ini sering juga menjadi tempat sebagian masyarakat untuk menunaikan hajat mereka. Kepercayaan sebagian masyarakat terhadap keramat ini juga sudah cukup lama.


"Iya, tangganya memang berbeda. Jika naik 60 turun bisa mencapai 65 atau kurang,"kata Jenal warga Kundur. 


Namun menurut sebagain warga pulau Kundur ini, keramat tangga itu sudah banyak dikenal masyarakat di Kundur. Bahkan tidak semua orang bisa mendapatkan perbedaan jumlah tangga hanya orang yang dikendaki keramat tersebut. 


Untuk melestarikan benda bersejarah yang ada pada tangga itu. Warga memasang  keramik pada tangga tersebut. Agar tangga ini tidak hilang ditelah zaman. "Dahulu tangga ini tidak dikeramik. Namun mungkin untuk melestarikan keramat ini, warga memasangnya dengan keramik,"kata warga Gading. 


Mitos pada tangga yang ajaib ini belum banyak diketahui warga. Tetapi perbedaanya jumlah tangga sunguh hanya kebesaran tuhan yang maha esa.

 
Blogger Templates